Unduh Adobe Flash player

Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Asal Usul Qosidah Burdah

Qosidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya, sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan, hingga kini masih sering dibacakan di sebagian pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Melayu, Sindi, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.
Pengarang qosidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/ 1213-1296 M). Nama lengkapnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri.* Dia keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko dan dibesarkan di Bushir, Mesir, Dia seorang murid Sufi besar, Imam as-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abdul Abbas al-Mursi – anggota Tarekat Syadziliyah. Di bidang ilmu fiqih, Al Bushiri menganut mazhab Syafi’i, yang merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir.

Di masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Quran di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusateraan Arab ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya di bidang sastra syair ini melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.
Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai penyalin naskah-naskah. Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus Munjibnya.
Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusasteraan Arab dimasukkan ke dalam genre al-mada’ih an-nabawiyah, sedangkan dalam kesusasteraan-kesusasteraan Persia dan Urdu dikenal sebagai kesusasteraan na’tiyah (kata jamak dari na’t, yang berarti pujian). Sastrawan Mesir terkenal, Zaki Mubarok, telah menulis buku dengan uraian yang panjang lebar mengenai al-mada’ih an-nabawiyah. Menurutnya, syair semacam itu dikembangkan oleh para sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan religius yang Islami.
Qosidah Burdah terdiri atas 160 bait (sajak), ditulis dengan gaya bahasa (uslub) yang menarik, lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, cinta kasih, pengendalian hawa nafsu, doa, pujian terhadap Al Quran, Isra’ Mi’raj, jihad dan tawasul.

Manuskrip Qosidah Burdah
Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, AI-Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada- Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf, dan bahkan diajarkan pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas AI-Azhar, Kairo.
Al-Bushiri hidup pada suatu masa transisi perpindahan kekuasaan dinasti Ayyubiyah ke tangan dinasri Mamalik Bahriyah. Pergolakan politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintahan mengejar kedudukan dan kemewahan. Maka munculnya kasidah Burdah itu merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan kultural pada masa itu, agar mereka senantiasa mencontoh kehidupan Nabi yang bertungsi sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), mengendalikan hawa nafsu, kembali kepada ajaran agama yang murni, Al-Quran dan Hadist.

Sejarah Ringkas Qosidah Al-Burdah
Al-Burdah menurut etimologi banyak mengandung arti, antara lain :
1. Baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bisaaikh Al Busyiri dibedakan dengan pejabat negara lainnya, teman-teman dan rakyatnya.
2. Nama dari kasidah yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW yang digubah oleh Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma.
Pada mulanya, burdah (dalam pengertian jubah) ini adalah milik Nabi Muhammad SAW yang diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam). Burdah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi. oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat id dan diteruskan secara turun temurun.
Riwayat pemberian burdah oleh Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Zuhair bermula dari Ka’ab yang menggubah syair yang senantiasa menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat. Karena merasa terancam jiwanya, ia lari bersembunyi untuk menghindari luapan amarah para sahabat. Ketika terjadi penaklukan Kota Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengirim surat kcpadanya, yang isinya antara lain anjuran agar Ka’ab pulang dan menghadap Rasulullah, *karena Rasulullah tidak akan membunuh orang yang kembali (bertobat). Setelah memahami isi surat itu, ia berniat pulang kembali ke rumahnya dan bertobat.
Kemudian Ka’ab berangkat menuju Madinah. Melalui ‘tangan’ Abu Bakar Siddiq ra, di sana ia menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW, Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan burdahnya dan memberikannya kepada Ka’ab.
Ka’ab kemudian menggubah Qosidah yang terkenal dengan sebutan Banat Su’ad (Putri-putri Su’ad), terdiri atas 59 bait (puisi). Qosidah ini disebut pula dengan qosidah Burdah. la ditulis dengan indahnya oleh kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi di dalam kitab kaligrafi-nya, Qawaid al-Khat al-Arabi.
Di samping itu, ada sebab-sebab khusus dikarangnya Kasidah Burdah itu, yaitu ketika al-Bushiri menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. di mana Nabi mengusap wajah al-Bushiri, kemudian Nabi melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiri, dan saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.
Pemikiran-Pemikiran Bushiri dalam Al-Burdah dimulai dengan nasib, yaitu ungkapan rasa pilu atas dukacita yang dialami penyair dan orang yang dekat dengannya, yaitu tetangganya di Dzu Salam, Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh kenangan mendalam dalam hidupnya, khususnya kampung halamannya. Inilah nasib yang diungkapkan Bushiri pada awal bait :
Amin tadzakurin jiranin bi Dzi Salami
Mazajta dam ‘an jara min muqlatin bi dami?
Tidakkah kau ingat tetanggamu di Dzu Salam
Yang air matanya tercucur bercampur darah?
Kemudian ide-ide al-Bushiri yang penting dilanjutkan dengan untaian-untaian yang menggambarkan visi yang bertalian dengan ajaran-ajaran tentang pengendalian hawa nafsu. Menurut dia, nafsu itu bagaikan anak kecil, apabila diteruskan menetek, maka ia akan tetap saja suka menetek. Namun jika ia disapih, ia pun akan berhenti dan tidak suka menetek lagi. Pandangan al-Bushiri tentang nafsu tersebut terdapat pada bait ke-18, yang isinya antara lain:
Wa an-nafsu kattifli in tuhmiihu syabba ‘ala
Hubbi ar-radha’i wa in tufhimhu yanfatimi
Nafsu bagaikan anak kecil, yang bila dibiarkan menetek
Ia akan tetap senang menetek. Dan bila disapih ia akan melepaskannya.
Dalam ajaran pengendalian hawa nafsu, al-Bushiri menganjurkan agar kehendak hawa nafsu dibuang jauh-jauh, jangan dimanjakan dan dipertuankan, karena nafsu itu sesat dan menyesatkan. Keadaan lapar dan kenyang, kedua-duanya dapat merusak, maka hendaknya dijaga secara seimbang. Ajakan dan bujukan nafsu dan setan hendaknya dilawan sekuat tenaga, jangan diperturutkan (bait 19-25).
Selanjutnya, ajaran Imam al-Bushiri dalam Burdahnya yang terpenting adalah pujian kepada Nabi Muhammad SAW. la menggambarkan betapa Nabi diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi dua alam : manusia dan Jin, pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab. Beliau bagaikan permata yang tak ternilai, pribadi yang tertgosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Al-Bushiri melukiskan tentang sosok Nabi Muhammad seperti dalam bait 34-59 :
Muhammadun sayyidul kaunain wa tsaqaulain
Ni wal fariqain min urbin wa min ajami
Muhammad adalah pemimpin dua alam : manusia dan jin
Pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab.
Pujian al-Bushiri pada Nabi tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi, tetapi mengungkapkan kelebihan Nabi yang paling utama, yaitu mukjizat paling besar dalam bentuk Al Quran, mukjizat yang abadi. Al Quran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi ditafsirkan dan dipahami secara arif dengan berbekal pengetahuan dan makrifat. Hikmah dan kandungan Al Quran memiliki relevansi yang abadi sepanjang masa dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal. Kitab Al Quran selamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam.
Maqam Imam Bushiri Selain Kasidah Burdah, al-Bushiri juga menulis beberapa kasidah lain di antaranya a!-Qashidah al-Mudhariyah dan al-Qashidah al-Hamziyah. Sisi lain dari profil al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, tekun beribadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi.
Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam deretan sufi-sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jamharat al-Aulia. bahwa al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya. Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih dijadikan tempat ziarah. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abu Abbas al-Mursi.
Wallahu a’lam.

Mengenal Thoriqoh Mu’tabarah

Dalam tasawwuf seringkali dikenal istilah Thoriqoh, yang berarti
jalan, yakni jalan untuk mencapai Ridlo Allah. Dengan pengertian
ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan,
sehingga sebagian sufi menyatakan, Aturuk biadadi anfasil
mahluk, yang artinya jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya
mahluk, aneka ragam dan bermacam macam. Kendati demikian
orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati,
karena dinyatakan pula, Faminha Mardudah waminha maqbulah,
yang artinya dari sekian banyak jalan itu, ada yang sah dan ada
yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima.
Yang dalam istilah ahli Thoriqoh lazim dikenal dengan ungkapan,
Mu’tabaroh. Wa ghoiru Mu’tabaroh.
KH. Dzikron Abdullah menjelaskan, awalnya Thoriqoh itu dari Nabi
yang menerima wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril. Jadi,
semua Thoriqoh yang Mu’tabaroh itu, sanad(silsilah)-nya muttashil
(bersambung) sampai kepada Nabi. Kalau suatu Thoriqoh
sanadnya tidak muttashil sampai kepada Nabi bisa disebut
Thoriqoh tidak (ghoiru) Mu’tabaroh. Barometer lain untuk
menentukan ke-mu’tabaroh-an suatu Thoriqoh adalah
pelaksanaan syari’at. Dalam semua Thoriqoh Mu’tabaroh syariat
dilaksanakan secara benar dan ketat.
Diantara Thoriqoh Muktabaroh itu adalah :


  • Thoriqoh Syathariyah
Thoriqoh Syathariyah pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.1429 M).
Thoriqoh Syathariyah berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan
Medinah) dibawa oleh Syekh Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082)
dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua ulama ini
diteruskan oleh Syekh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili ke Nusantara,
kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke
Minangkabau. Thoriqoh Syathariyah sesudah Syekh Burhan al-Din,
berkembang pada 4 (empat) kelompok, yaitu :
  1. silsilah yang diterima dari Imam Maulana.
  2. silsilah yang dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan.
  3. silsilah yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan.
  4. silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul Syifa’ al-Qulub.
Thoriqoh ini berkembang di Minangkabau
dan sekitarnya. Untuk mendukung ke1embagaan Thoriqoh, kaum
Syathariyah membuat lembaga formal berupa organisasi sosial
keagamaan Jama’ah Syathariyah Sumatera Barat, dengan cabang
dan ranting-ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di
propinsi-tetangga Riau dan jambi. Bukti kuat dan kokohnya
kelembagaan Thoriqoh Syathariyah dapat ditemukan wujudnya
pada kegiatan ziarah bersama ke makam Syekh Burhan al-Din
Ulakan.


  • Thoriqoh Qadiriyyah
Di Jawa Tengah Thoriqoh Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah muncul
dan berkembang antara lain dari Mbah Ibrahim Brumbung
Mranggen diturunkan kepada antara lain KH. Muslih pendiri Ponpes
Futuhiyyah, Mranggen. Dari Kyai Muslih ini lahir murid-murid
Thoriqoh yang banyak. Dan dari tangan mereka berkembang
menjadi ratusan ribu pengikut. Demikian pula halnya Simbah Kyai
Siradj Solo yang mengembangkan Thoriqoh ini ke berbagai
tempat melalui anak muridnya yang tersebar ke pelosok Jawa
Tengah hingga mencapai puluhan ribu pengikut. Sementara di
Jawa Timur, Thoriqoh ini dikembangkan oleh KH. Musta’in Romli
Rejoso Jombang dan Simbah Kyai Utsman yang kemudian
dilanjutnya putra-putranya diantaranya KH. Asrori yang juga
mempunyai murid ratusan ribu. Di Jawa Barat tepatnya di Ponpes
Suryalaya Tasikmalaya juga turut andil membesarkan Thoriqoh ini
sejak mulai zaman Abah Sepuh hingga Abah Anom dan murid-muridnya
yang tersebar di berbagai penjuru Jawa Barat.


  • Thoriqoh Alawiyyah
Thoriqoh Alawiyyah berbeda dengan Thoriqoh sufi lain pada
umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang
tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) yang berat,
melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa
wirid serta dzikir ringan. Sehingga wirid dan dzikir ini dapat
dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing
oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni
Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad.serta beberapa ratib lainnya
seperti Ratib Al Attas dan Alaydrus juga dapat dikatakan, bahwa
Thoriqoh ini merupakan jalan tengah antara Thoriqoh Syadziliyah
(yang menekankan olah hati) dan batiniah) dan Thoriqoh Al-
Ghazaliyah (yang menekankan olah fisik). Thoriqoh ini berasal
dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai
negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk
Indonesia). Thoriqoh ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-
Muhajir-lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-
Muhajir-seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat. Al Imam
Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali Baalwi, juga merupakan
tokoh kunci Thoriqoh ini. Dalam perkembangannya kemudian,
Thoriqoh Alawiyyah dikenal juga dengan Thoriqoh Haddadiyah,
yang dinisbatkan kepada Habib Abdullah al-Haddad, Attasiyah
yang dinisbatkan kepada Habib Umar bin Abdulrahman Al Attas,
serta Idrusiyah yang dinisbatkan kepada Habib Abdullah bin Abi
Bakar Alaydrus, selaku generasi penerusnya. Sementara nama
“Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al
-Muhajir. Thoriqoh Alawiyyah, secara umum, adalah Thoriqoh
yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai
saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW-yang
merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat
Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal Thoriqoh ini
didirikan, pengikut Thoriqoh Alawiyyah kebanyakan dari kaum
sayyid di Hadhramaut, atau Ba Alawi.Thoriqoh ini dikenal pula
sebagai Toriqotul abak wal ajdad, karena mata rantai silisilahnya
turun temurun dari kakek,ayah, ke anak anak mereka, dan
setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain
dari non-Hadhrami. Di Purworejo dan sekitarnya Thoriqoh ini
berkembang pesat, diikuti bukan hanya oleh para saadah
melainkan juga masarakat non saadah , Sayid Dahlan Baabud,
tercatat sebagai pengembang Thoriqoh ini, yang sekarang
dilanjutkan oleh anak cucunya.


  • Thoriqoh Khalwatiyah
Thoriqoh Khalwatiyah diambil dari kata “khalwat”, yang
artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini
dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati (w. 717 H),
pendiri Thoriqoh Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempattempat
sepi. Secara “nasabiyah”, Thoriqoh Khalwatiyah
merupakan cabang dari Thoriqoh Az-Zahidiyah, cabang dari Al-
Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh
Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi
(539-632 H). Thoriqoh Khalwatiyah berkembang secara luas di
Mesir. Ia dibawa oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin
Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal
Damaskus, Syiria. Ia mengambil Thoriqoh tersebut dari gurunya
yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi.
Karena pesatnya perkembangan Thoriqoh ini di Mesir, tak heran
jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh
para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran
Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik.
Diantara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan
(Pelipur Duka).


  • Thoriqoh Tijaniyah
Thoriqoh Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin
Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang
tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah
karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme
dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan
syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh
Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan
Tuhan. At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi,
bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat
menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman
lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi
guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada
tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa
tahun. Setel`h itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun
1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan
selama lima tahun. Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh
Thoriqoh-Thoriqoh lain. Gugatan keras dari kalangan ulama
Thoriqoh itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Thoriqoh
Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan
diperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala
yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan
membaca seluruh Al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu,
para pengikut Thoriqoh Tijaniyah diminta untuk melepaskan
afiliasinya dengan para guru Thoriqoh lain, Meski demikian,
Thoriqoh ini terus berkembang, utamanya di Buntet- Cirebon dan
seputar Garut (Jawa Barat), dan Jati barang brebes, Sjekh Ali
Basalamah, dan kemudian dilanjutkan putranya, Sjekh
Muhammad Basalamah, adalah muqaddam Tijaniah di Jatibarang
yang pengajian rutinnya, dihadiri oleh puluhan ribu ummat Islam
pengikut Tijaniah. Demikian pula Madura dan ujung Timur pulau
Jawa, tercatat juga, sebagai pusat peredarannya. Penentangan
terhadap Thoriqoh ini, mereda setelah, Jam’iyyah Ahlith-Thariqah
An-Nahdliyyah menetapkan keputusan, Thoriqoh ini bukanlah
Thoriqoh sesat, karena amalan-amalannya sesuai dan tidak
bertentangan dengan ajaran Islam. Keputusan itu diambil setelah
para ulama ahli Thoriqoh memeriksa wirid dan wadzifah Thoriqoh ini.


  • Thoriqah Sammaniyah
Thoriqah Sammaniyah didirikan oleh Syekh Muhammad Samman
yang bernama asli Muhammad bin Abd al-Karim al-Samman al-
Madani al-Qadiri al-Quraisyi dan lebih dikenal dengan panggilan
Samman. Beliau lahir di Madinah 1132 H/1718 M dan berasal dari
keluarga suku Quraisy. Semula ia belajar Thoriqoh Khalwatiyyah
di Damaskus, lama kelamaan ia mulai membuka pengajian yang
berisi teknik dzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Ia menyusun
cara pendekatan diri dengan Allah yang akhirnya disebut sebagai
Thoriqoh Sammaniyah. Sehingga ada yang mengatakan bahwa
Thoriqoh Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah. Di
Indonesia, Thoriqoh ini berkembang di Sumatera, Kalimantan dan
Jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18
yang banyak mendapatkan pengikut karena popularitas Imam
Samman. Sehingga manaqib Syekh Samman juga sering dibaca
berikut dzikir Ratib Samman yang dibaca dengan gerakan
tertentu. Di Palembang misalnya ada tiga ulama Thoriqoh yang
pernah berguru langsung pada Syekh Samman, ia adalah Syekh
Abd Shamad, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syekh Syihabuddin
dan Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad. Di Aceh juga terkenal
apa yang disebut Ratib Samman yang selalu dibaca sebagai dzikir
(team Al Mihrab ).
Umumnya, nama sebuah Thoriqoh diambil dari nama sang pendiri
Thoriqoh bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir
Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi
Thoriqoh Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang
artinya menyendiri untuk merenung.


Semoga Berguna….!!!
 
Free Automatic Backlink Backlink Exchange Free Auto Backlinks Auto Backlink Gratis Indonesia : Top Link Indo backlinks referer backlinks referer Text Backlink Exchanges MIM - Free BacklinksYour-Link
,b:section class='lowerbar' id='lowerbar2' preferred='yes'/>

Followers